Me & PCOS (part 1)
Bulan ke-3 menikah (oktober 2017), saat jadwal menstruasi sudah waktunya sesuai jadwal di aplikasi period calendar saya, yang keluar hanya flek-flek sedikit.
Penasaran, seperti biasa saya langsung cari info via google. Hasil pencarian banyak artikel tanda awal kehamilan. Deg-degan plus senang, akhirnya saya memutuskan untuk beli test pack untuk cek.
Karena nggak sabar, sore itu saya langsung cek. Tapi hasilnya negatif. Hmmm.. mungkin terlalu cepat ceknya, pikir saya. Coba lagi pagi sebangun tidur, tapi hasil tetap negatif.
Ada sedikit rasa kecewa, tapi saya selalu berusaha berpikiran positif. Selalu berkata didalam hati "Allah akan memberikan titipan anak diwaktu yang tepat" :')
Sudah 3 hari hanya sedikit flek-fleknya tidak seperti saat mens biasanya. Saya coba cerita ke teman sekantor yang sudah memiliki anak. Responnya adalah "Kamu hamil deh Cha, waktu hamil aku juga gitu". Hehe, I wish Mba... tapi dalam hati bilang "No, aku udah test pack".
Karena penasaran dan takut kenapa-kenapa juga. Saya memutuskan untuk cek ke dokter kandungan di RS dekat kantor. Saya cek sendiri karena suami sedang dinas (dan sudah nggak sabar mau cek).
Saat bertemu suster untuk cek tensi dll, suster nyeletuk "Wah pasti pengantin baru ya, bakal sering kesini nih cek kandungan". Saya hanya senyum-senyum saja sambil meng-amin-i dalam hati.
Saya cek di RS sekitar permata hijau jam 12 saat istirahat kantor. Jadi saya random pilih dokter kandungan yang ada walau sempat googling sedikit katanya si dokter kurang recommended karena cepat-cepat dan agak jutek. Saya pikir saat itu nggak apa-apa deh, toh saya hanya ingin memastikan saya kenapa, kalaupun saya punya dokter kandungan langganan, saya akan pilih dokter di Bogor.
Menunggu setengah jam sampai saya dipanggil masuk, pemandangan yang saya lihat banyak suami istri yang mungkin mau cek kandungan, ada yang perutnya masih kecil, ada yang sudah hamil besar. Sambil tersenyum melihat suami istri tersebut saya berdoa "Ya Allah, semoga bisa cepat seperti mereka juga".
Tiba saat dipanggil masuk, dokter hanya menyapa sambil melirik sedikit, lalu melanjutkan menulis di kertasnya. Beliau bertanya apa keluhannya. Saya mencoba menjelaskan dulu riwayat jadwal menstruasi saya yang tidak teratur sebelum menikah.
Jadi dulu jadwal mens saya bisa sampai 2 bulan siklusnya. Pokoknya nggak pernah pas. Akhirnya saya download aplikasi untuk mencatat jadwal mens saya. Semenjak menikah, siklusnya jadi terus maju menuju normal, dari 50 hari, 40 hari, sampai jadi 30 harian.
Kembali saat di dokter, saya ingin menjelaskan semua itu, tapi beliau seolah mau saya langsung to the point (hmm, bener juga yang di review orang). Saya sampaikan masalah saya, akhirnya beliau langsung menyuruh saya untuk langsung periksa USG Transvaginal.
USG Transvaginal adalah jenis USG panggung yang digunakan untuk melihat organ-organ reproduksi seperti rahim, indung telur, leher rahim dan vagina.
Ok walau agak takut awalnya tapi saya pasrah saja.
Saat di USG, terlihat di rahim saya ada bulatan-bulatan kecil seperti anggur. Sambil USG dokter bergumam "Hmm itu haid kok (maksudnya flek-flek yang saya keluhkan), rahimnya bagus, kuat, tapi ini sel telurnya..." sambil lirik ke suster "PCO nih sus.."
Hah, apaan tuh?
Selesai periksa saya tanya dokter jadi hasilnya seperti apa.
Beliau menjawab, jadi flek itu adalah darah haid yang memang keluar sedikit, bukan tanda kehamilan. Sel-sel telur saya kecil, lanjutnya. Jadi sulit untuk matang dan dibuahi.
Lalu dokter bertanya "Sudah menikah berapa bulan? 3 bulan ya? makanya kamu belum hamil-hamil kan?"
JEDAAAR, mendengar kata-kata si dokter tadi really breaks my heart, kok jahat ngomongnya :( Bisakah beliau lebih lembut lagi penyampaiannya?
Agak kaget, tapi saya harus memancing tanya-tanya ke dokter ini lebih lanjut, karena kalau tidak ditanya beliau tidak menjelaskan (kan gabut ya - udah mulai emoshi hahaha)
"Jadi saya kenapa dok, bisa dijelaskan lebih rinci lagi?"
Beliau menjelaskan bahwa saya PCOS.
PCOS adalah polycystic ovary syndrome, gangguan keseimbangan hormonal, bisa membuat sulit hamil..
Selanjutnya nggak kedengeran deh itu dokter jelasin apa (walau sangat singkat), karena langsung sedih disitu dan membayangkan macem-macem.
Dokter kasih resep untuk memperbesar sel telur.
Saya pulang dengan lunglai, cerita ke suami dan dia menenangkan (sambil mau marah ke dokternya yang sudah menyakiti hatiku hehe). Suami bilang nanti kita ke dokter kandungan di Bogor saja, diperiksa ulang semuanya.

Komentar
Posting Komentar