Me & PCOS (Part 2)

Seperti yang diceritakan di tulisan sebelumnya, saya didiagnosa memiliki PCOS.
Penjelasan mengenai fakta PCOS bisa dibaca juga di artikel kompas ini.

Saya dan suami akhirnya mencari rekomendasi dokter kandungan di Bogor.
Beberapa teman kami kontrol di RS Hermina Bogor, kebanyakan mereka kontrol di Dr. Budi atau Dr. Farah Dina. Karena kami mencari dokter perempuan untuk spesialis kandungan, jadi terpilihlah Dr. Farah Dina.

Benar saja, antrian untuk 2 dokter ini panjaaang... Harus booking H-1 sebelum kontrol.
Tapi setelah giliran saya masuk, dokternya super ramah menyambut. Hmm.. pantes pasiennya banyak..

Saya menjelaskan diagnosa dokter sebelumnya ke Dr. Farah, beliau memberi waktu saya untuk menjelaskan, lalu setelah selesai, dokter mau langsung periksa kembali USG transvaginal.
Saya lihat dilayar, rahim saya ada seperti bulatan-bulatan anggur. 
Kemudian beliau menjelaskan PCO ini adalah Polycystic Ovary, jadi ada banyak kista di ovarium.
PCO terjadi karena ketidakseimbangan hormon, kadar hormon pria (androgen) meningkat dalam tubuh wanita. Ciri-ciri fisik orang dengan PCO biasanya kelebihan berat badan, pertumbuhan rambut berlebih, banyak jerawat, rambut kepala rontok atau menipis.

Tapi dokter bilang dari ciri-ciri fisik, saya tidak terlihat seperti orang dengan PCO, kista di ovariumnya juga sedikit. Ada pasiennya lebih banyak dari ini tapi nggak lama hamil-hamil juga kok.
Wahh... kata-katanya menyemangati sekali.. saya jadi optimis!

Nah memang gejala PCO yang saya alami adalah tidak teraturnya menstruasi saya tiap bulan. Siklusnya sangat lama, padahal normalnya 28-35 hari. 
Jadi, jika ingin program hamil, yang di "benerin" dulu itu siklus menstruasi saya.

Treatment yang dokter berikan adalah memberikan saya obat diabetes (hehe kata dokter jangan sampai saya dikira salah ngasih obat ya) maksud beliau adalah menjaga gula darah saya, sayapun harus mengontrol asupan gula, karena itu berpengaruh terhadap hormon.
Baiklaah, bye-bye cokelat, thai tea, dan semua yang manis-manis...

Akhirnya sebulan sekali saya kontrol sambil melihat jadwal mens saya apakah makin normal atau tidak. Alhamdulillah siklus makin pendek dan mendekati normal.
Tapi beberapa bulan kemudian jadwalnya berantakan lagi, malah hampir 2 bulan tidak mens.

Sempat ge-er kalau hamil, eh ternyata negatif.. hehe
Saat kontrol kembali sepertinya dokter mau "menaikkan dosis" obatnya, karena jadwal yang kian berantakan.
Saya diberikan obat untuk 2 siklus menstruasi. 
Obat pertama saya minum, dan seminggu setelah itu saya mens. Lalu di hari ke lima saat menstruasi (kalau tidak salah) saya minum lagi obat dan itu setiap hari (28 hari), jadi setelah itu saya akan mens lagi. 
Obat di siklus pertama saya minum, karena sudah hampir 2 bulan tidak mens, benar saja seminggu kemudian saya mens.
Obat selanjutnya (untuk siklus kedua) yang harus saya miinum, entah mengapa berat untuk meminumnya.

Melihat efek sampingnya juga sepertinya akan membuat "mood swing". Saya ragu untuk minum karena saya mau happy-happy saja, takutnya malah bikin tambah stress.

Beberapa hari sebelum jadwal minum obat itu, saya ke rumah teman ibu. Beliau punya anak-anak yatim yang diasuh, jadi kalau mau memberikan baju-baju bekas saya ke rumahnya.
Sekalian curhat kondisi saya saat itu, hehe. Si bunda (saya memanggilnya bunda) memang enak diajak curhat.
Saya dinasehati untuk lebih bersabar, toh masih muda, umur pernihakan juga belum genap setahun.
Mungkin Allah sedang memberikan waktu untuk kami berdua "pacaran" dulu. Beliau juga menyarankan saya tidak kontrol dulu ke dokter, karena berpengaruh pada psikologis saya juga.
Benar juga sih, saat kontrol kan kami lagi berharap sekali. Bunda menyarankan lebih baik uang untuk kontrol dokter dikasih Ibu saja niatkan untuk sedekah. Lumayan kan tiap bulan? begitu katanya.
Ah iya, mungkin saya selama ini juga kurang perhatian dengan orang tua saya. Terlalu sibuk dengan urusan kerjaan dan rumah tangga ini. 

Saya semakin mantap untuk tidak melanjutkan obat itu. Tapi jika kalian ada yang sedang treatment dengan dokter jangan ditiru ya hehe, ini karena saya-nya saja yang "males" minum obat. Saya coba bilang ke suami mau stop nggak mau minum obat siklus kedua. Suami saya mendukung apapun itu jika dirasa baik. Jadi saya lebih memilih ikhlaskan saja, pasrah, sambil tetap berusaha.
Saya jalani pola hidup sehat, diet cokelat dan manis-manis, minum jus, minum madu penyubur, dll. Pokoknya cara-cara promil alami dicoba. Dicoba juga untuk terus happy, sugesti positif, berdoa nggak putus, dirayu terus Allah-nya.
Suami juga nggak berhenti mengingatkan bahwa "Allah tau waktu terbaik untuk kita" :')




x

Komentar

Postingan Populer